Jumat, 07 Oktober 2011

BAB III MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN


Pratikum ke-4                                                              Selasa, 11 Oktober 2011
Ruangan  : P25                                                            Sosiologi Umum (KPM 130)

MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN
OMPU MONANG NAPITUPULU INGIN SEDERHANAKAN BUDAYA BATAK
Oleh : Arbain Rambey
Dan
KEHIDUPAN SUKU DAYAK KENYAH DAN MODANG DEWASA INI
Inventarisasi Sebuah Proses Pemiskinan
Oleh : Franky Raden

Nama   : Delfitriani
Nrp : F34110070


Natasha Christdavina
H24090143

DEPARTEMEN KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT
FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2011
Bacaan I
Dalam semingu terakhir,  pembaca surat kabar di Medan seakan dibombardir dengan iklan yang mengajak agar masyarakat Batak Toba mengusir perusahaan yang merusak lingkungan Bona Pagosit. Lingkungan Bona Pasogit adalah bahasa sub-etnik Batak Toba untuk menyebut daerah tempat tinggal mereka di Sumatera Utara, tepatnya di sekitar Danau Toba. Pemasang iklan itu adalah Parbato atau Pertungkoan Batak Toba, sebuah organisasi kesukuan yang berdiri pada bulan Agustus 1997.
Melihat sosok parbato yang “galak” akhir-akhir ini,  menimbulkan pertanyaan, tidakkah gerakan kesukuan merupakan langkah mundur di tengah arus globalisasi. Tetapi menurut Ompu Monang, ketua Parbato sejak 1997, banyak masalah hanya bisa didekati secara etnis. Dia juga memaparkan pentingnya tiap etnis di Indonesia punya kesadaran diri untuk menggalang solidaritas kecil yang akhirnya berguna untuk solidaritas Indonesia secara keseluruhan.Batak toba merupakan salah satu sub-etnis suku Batak. Streotip Batak Toba seperti streotip orang batak pada umumnya. Watak keras tampak jelas pada Ompu Monang. Tetapi dibalik sikapnya itu Ompu Monang memiliki banyak “kehangatan” khas Batak.
Ompu Monang bukanlah nama aslinya. Aslinya ia bernama Daniel Napitulu. Ia mengambil nama itu setelah kelahiran cucu pertamanya, Monang Napitutu. Kehadiran cucunya adalah berkah dan rahmat yang luar biasa. Jadi, nama barunya itu berarti “kakeknya” Monang Napitututu. Menurutnya, nama itu adalah cara orang Batak apabila sudah mempunyai cucu dan kehangatan keluarga nomor satu. Bukan hanya itu tapi kekerabatan juga terdapat pada acara pernikahan. Segi positifnya adalah rasa tanggung jawab pada pendidikan dan perawatan seorang anak bisa melebar sampai pamannya. Sedangkan segi negatifnya adalah penghamburan uang dan waktu. Dalam pesta Batak, yang bukan kerabat dekat harus menunggu sampai acara keluarga selesai. Jadi hal itu, termasuk pemborosan waktu. Selain itu, setiap orang juga harus memberikan kain ulos kepada mempelai.
Pemborosan waktu juga dapat dilihat pada acara perkawinan yaitu saat pemberian nasehat yang bisa berjam-jam karena akan ada ratusan orang yang memberikan nasehat. Menurut Ompu Monang, “ Kalau ada perkawinan bukan di hari minggu betapa banyaknya waktu kerja efektif yang hilang karena adanya sebuah upacara perkawinan. Contoh lainnya yaitu pada pembangunan makam-makam Batak Toba yang nilainya dapat mencapai ratusan juta per makamnya. Persaingan harga makan tidak lain adalah persaingan gensi antar keluarga.
Beberapa kali Parbato menyelenggarakan seminar dengan dana puluhan juta untuk membahas penyelewengan adat Batak Toba. Namun hasil seminar hanya sebatas cetakan hasil seminar, belum ada tindakan nyata mengatasi keborosan adat ini. Untuk mengatasi hal itu, Ompu Monang memberikan contoh pada pernikahan anaknya dengan cara menurut dia efisien namun tidak keluar dari adat Batak Toba. Di pesta itu dia membatasi orang yang memberikan kain ulos dan tidak ada acara pemberian nasehat. Hal itu dilakukan dengan harapan bisa menjadi pemutus penyelewengan adat boros itu karena menurutnya perbuatan nyata adalah nasehat terbaik.

Bacaan II
Suku Dayak Kenyah, konon juga suku Dayak Modang, berasal dari daerah pegunungan yang bernama Apokayan, sebelah Utara Kalimantan Timur, daerah ini adalah daerah yang terisolir. Dulunya daerah ini masih masih hidup dalam bentuk keutuhan kebudayaan dan sistem nilai mereka yang asli. Tetapi setelah kedatangan Belanda yang membawa agama Kristiani, sistem nilai dan budaya semakin melemah dikarenakan ada dari beberapa anggota keluarga mereka yang pindah agama. Banyak terjadi konflik diantara mereka dan berujung pada perpecahan. Selain masalah keagamaan, dari sektor Ekonomi adalah banyak dari mereka yang berubah menjadi miskin karena akibat dari hal-hal baru yang mereka belum penuhi. Karena konflik tersebut, ada diantara mereka yang memutuskan untuk meninggalkan daerah asalnya. Inilah awal dari proses pemiskinan yang menggerogoti setiap sisi kehidupan mereka.
Di daerah yang sekarang ini mayoritas penduduk perkampungan sepanjang sungai Kelinjau adalah suku dayak Kenyah dan Mondang yerbagi atas beberapa anak suku. Di antara mereka menyelip beberapa suku lain dan para pendatang ini dapat menguasai arus perekonomian suku Dayak. Dilihat dari sepintas lalu kehidupan mereka sehari-hari kelihatan berkecukupan. Namun kenyataannya tidak demikian. Akhirnya, kondisi perekonomianlah yang menjadi salah satu faktor yang paling kuat dalam mengakibatkan kegoncangan dan memojokkan kehidupan orang-orang Dayak. Kondisi ini juga berdampak pada kebudayaan dan kesenian mereka yang terdistorsi. Contohnya, Lamin yang merupakan manifestasi dari tata cara pemerintah dan susunan masyarakat serta merupakan titik sentral dari aktivitas kehidupan mereka dalam ruang penghayatan kebersamaan yang eksistensial, akhirnya tereduksi menjadi bangunan megah yang mati karena setiap keluarga saat ini sudah mempunyai rumah sendiri.
Akibat dari proses desentralisasi ini yaitu kesenian menjadi terpisah dari kehidupan sehari-hari mereka. Terciptanya kondisi demikian dalam segala isi kehidupan suku dayak yang bermukin di daerah baru ini tidak dapat dilepaskan dari penanganan dan tanggungjawab pemerintah daerah. Tetapi hampir semua usaha dari pemerintah ini hanya menjebak mereka ke dalam masalah yang rumit dan sukar mereka atasi. Faktor terjahat yang menggoncangkan kehidupan masyarakat Dayak adalah munculnya penguasa hutan yang mendadak mengunci hutan untuk daerah perladangan yang menjadi sumber kehidupan mereka.
Menurut suku Dayak, tanggalnya sebuah roda kehidupan yang menggerakkan seluruh sistem nilai mereka, merupakan titik awal dari munculnya khaos. Dari sini jelas bahwa proses pemiskinan yang mereka alami adalah proses pemiskinan nilai secara keseluruhan di tiap sisi kehidupan. Fakta yang dekat dari signifikan masalah ini terlihat jelas pada kehidupan suku Dayak Umak Tau di kampung Tanjung Manis. Kampung ini adalah kampung yang paling miskin dan rawan di seluruh kecamatan. Tetapi, di dalam diri mereka terdapat jiwa gotong royong dan kooperatif. Mereka dan suku Dayak lainnya sangat merindukan cara hidup yang lama.
Sekarang menjadi jelas bahwa masalah kemiskinan di negeri kita bukan hanya masalah bagaimana manusia Indonesia dapat hidup layak dari kriteria tingkat kehidupan ekonomi mereka belaka. Yang lebih mendasar adalah bagaimana menghormati dan memberi hak hidup mereka di atas nilai kultur tradisi sendiri. Hikmah dan kesadaran akan dimensi nilai ini harus diambil untuk membangun strategi politik bangsa kita. Masuknya sistim nilai kota mendadak membuat mereka sadar bahwa bahwa mereka miskin. Reaksi mereka kemudian adalah lekas-lekas menjual harta kebudayaan mereka yang laku kepada orang kota atau menjadi pengemis di hadapan orang-orang asing. Dalam bentuk ekstrimnya melalui turisme ini kita menjual bangsa sendiri yang belum siap sama sekali dihadapkan secara frontal demikian kepada suatu jaringan mekanisme kehidupan modern yang manifestasinya dihadapan mereka hanyalah kelimpahan materi.
Terciptanya  semua masalah ini mebuktikan bahwa masyarakat kita masih berada dalam kondisi yang arkhanis, tidak ada yang superior antara satu dengan yang lainnya. Yang lebih nyata adalah, kita yang saat ini berada pada posisi yang aktif dan memiliki otoritas, seharusnya dapat mengerem proses tersebut kalau kita menyadari bahayanya. Dan sekarang, masalah yang harus kita hadapi adalah bagaimana membawa dan memanfaatkan semua posisi dan kemungkinan itu untuk kepentingan negara dan seluruh masyarakat Indonesia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar