Pratikum ke-4 Selasa,
11 Oktober 2011
Ruangan : P25 Sosiologi Umum (KPM 130)
MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN
OMPU MONANG NAPITUPULU INGIN
SEDERHANAKAN BUDAYA BATAK
Oleh : Arbain Rambey
Dan
KEHIDUPAN SUKU DAYAK KENYAH
DAN MODANG DEWASA INI
Inventarisasi Sebuah Proses Pemiskinan
Oleh : Franky Raden
Nrp : F34110070
Natasha Christdavina
H24090143
DEPARTEMEN KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT
FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2011
Bacaan I
Dalam
semingu terakhir, pembaca
surat kabar di Medan seakan dibombardir dengan iklan yang mengajak agar
masyarakat Batak Toba mengusir perusahaan yang merusak lingkungan Bona Pagosit.
Lingkungan Bona Pasogit adalah bahasa sub-etnik Batak Toba untuk menyebut
daerah tempat tinggal mereka di Sumatera Utara, tepatnya di sekitar Danau Toba.
Pemasang iklan itu adalah Parbato atau Pertungkoan Batak Toba, sebuah
organisasi kesukuan yang berdiri pada bulan Agustus 1997.
Melihat sosok parbato yang “galak” akhir-akhir ini, menimbulkan pertanyaan, tidakkah
gerakan kesukuan merupakan langkah mundur di tengah arus globalisasi. Tetapi
menurut Ompu Monang, ketua Parbato sejak 1997, banyak masalah hanya bisa
didekati secara etnis. Dia juga memaparkan pentingnya tiap etnis di Indonesia
punya kesadaran diri untuk menggalang solidaritas kecil yang akhirnya berguna
untuk solidaritas Indonesia secara keseluruhan.Batak toba merupakan salah satu
sub-etnis suku Batak. Streotip Batak Toba seperti streotip orang batak pada
umumnya. Watak keras tampak jelas pada Ompu Monang. Tetapi dibalik sikapnya itu
Ompu Monang memiliki banyak “kehangatan” khas Batak.
Ompu
Monang bukanlah nama
aslinya. Aslinya ia bernama Daniel Napitulu. Ia mengambil nama itu setelah
kelahiran cucu pertamanya, Monang Napitutu. Kehadiran cucunya adalah berkah dan
rahmat yang luar biasa. Jadi, nama barunya itu berarti “kakeknya” Monang
Napitututu. Menurutnya, nama itu adalah cara orang
Batak apabila sudah mempunyai cucu dan kehangatan keluarga nomor satu. Bukan
hanya itu tapi kekerabatan juga terdapat pada acara pernikahan. Segi positifnya
adalah rasa tanggung jawab pada pendidikan dan perawatan seorang anak bisa
melebar sampai pamannya. Sedangkan segi negatifnya adalah penghamburan uang dan
waktu. Dalam pesta Batak, yang bukan kerabat dekat harus menunggu sampai acara
keluarga selesai. Jadi hal itu, termasuk pemborosan waktu. Selain itu, setiap
orang juga harus memberikan kain ulos kepada mempelai.
Pemborosan
waktu juga dapat dilihat pada acara perkawinan yaitu saat pemberian nasehat yang bisa berjam-jam karena
akan ada ratusan orang yang memberikan nasehat. Menurut Ompu Monang, “ Kalau ada perkawinan bukan di
hari minggu betapa banyaknya waktu kerja efektif yang hilang karena adanya
sebuah upacara perkawinan. Contoh
lainnya yaitu pada pembangunan makam-makam Batak Toba yang nilainya dapat
mencapai ratusan juta per makamnya. Persaingan harga makan tidak lain adalah persaingan gensi antar
keluarga.
Beberapa kali Parbato
menyelenggarakan seminar dengan dana puluhan juta untuk membahas penyelewengan
adat Batak Toba. Namun hasil seminar hanya sebatas cetakan hasil seminar, belum
ada tindakan nyata mengatasi keborosan adat ini. Untuk
mengatasi hal itu, Ompu Monang memberikan contoh pada pernikahan anaknya dengan cara menurut dia efisien namun tidak keluar
dari adat Batak Toba. Di pesta itu dia
membatasi orang yang memberikan kain ulos dan tidak ada acara pemberian
nasehat. Hal itu dilakukan dengan harapan bisa menjadi pemutus penyelewengan
adat boros itu karena menurutnya perbuatan nyata adalah nasehat terbaik.
Bacaan II
Suku Dayak Kenyah, konon juga suku Dayak Modang, berasal
dari daerah pegunungan yang bernama Apokayan, sebelah Utara Kalimantan Timur,
daerah ini adalah daerah yang terisolir.
Dulunya daerah ini masih masih hidup dalam bentuk keutuhan kebudayaan dan sistem nilai
mereka yang asli. Tetapi setelah kedatangan Belanda yang membawa agama
Kristiani, sistem nilai dan budaya semakin melemah
dikarenakan ada dari beberapa anggota keluarga mereka yang pindah agama. Banyak terjadi konflik diantara mereka
dan berujung pada perpecahan. Selain masalah keagamaan, dari sektor
Ekonomi adalah banyak dari mereka yang berubah menjadi miskin karena akibat
dari hal-hal baru yang mereka belum penuhi. Karena konflik tersebut, ada
diantara mereka yang memutuskan untuk meninggalkan daerah asalnya. Inilah awal
dari proses pemiskinan yang menggerogoti setiap sisi
kehidupan mereka.
Di daerah yang sekarang ini mayoritas penduduk
perkampungan sepanjang sungai Kelinjau adalah suku dayak Kenyah dan Mondang
yerbagi atas beberapa anak suku. Di antara mereka menyelip beberapa suku lain
dan
para pendatang ini dapat menguasai arus perekonomian suku Dayak. Dilihat dari
sepintas lalu kehidupan mereka sehari-hari kelihatan berkecukupan. Namun kenyataannya
tidak demikian. Akhirnya, kondisi perekonomianlah yang menjadi salah satu
faktor yang paling kuat dalam mengakibatkan kegoncangan dan memojokkan
kehidupan orang-orang Dayak. Kondisi ini juga berdampak pada kebudayaan dan
kesenian mereka yang terdistorsi. Contohnya, Lamin yang merupakan manifestasi
dari tata cara pemerintah dan susunan masyarakat serta merupakan titik sentral
dari aktivitas kehidupan mereka dalam ruang penghayatan kebersamaan yang
eksistensial, akhirnya tereduksi menjadi bangunan megah yang mati karena setiap
keluarga saat ini sudah mempunyai rumah sendiri.
Akibat
dari proses desentralisasi ini yaitu kesenian menjadi terpisah dari kehidupan
sehari-hari mereka. Terciptanya kondisi demikian dalam segala isi kehidupan suku dayak yang bermukin di
daerah baru ini tidak dapat dilepaskan dari penanganan
dan tanggungjawab pemerintah daerah. Tetapi hampir semua usaha dari pemerintah ini
hanya menjebak mereka ke dalam masalah yang rumit dan sukar mereka atasi. Faktor
terjahat yang menggoncangkan kehidupan masyarakat Dayak adalah munculnya
penguasa hutan yang mendadak mengunci hutan untuk daerah perladangan yang
menjadi sumber kehidupan mereka.
Menurut
suku Dayak, tanggalnya sebuah roda kehidupan yang menggerakkan seluruh sistem
nilai mereka, merupakan titik awal dari munculnya khaos. Dari sini jelas bahwa
proses pemiskinan yang mereka alami adalah proses pemiskinan nilai secara
keseluruhan di tiap sisi kehidupan. Fakta yang dekat dari signifikan masalah
ini terlihat jelas pada kehidupan suku Dayak Umak Tau di kampung Tanjung Manis.
Kampung ini adalah kampung yang paling miskin dan rawan di seluruh kecamatan.
Tetapi, di dalam diri mereka terdapat jiwa gotong royong dan kooperatif. Mereka
dan suku Dayak lainnya sangat merindukan cara hidup yang lama.
Sekarang
menjadi jelas bahwa masalah kemiskinan di negeri kita bukan hanya masalah
bagaimana manusia Indonesia dapat hidup layak dari kriteria tingkat kehidupan ekonomi mereka belaka. Yang lebih mendasar adalah bagaimana menghormati dan memberi
hak hidup mereka di atas nilai kultur tradisi sendiri. Hikmah dan kesadaran
akan dimensi nilai ini harus diambil untuk membangun strategi politik bangsa
kita. Masuknya sistim nilai kota mendadak membuat mereka sadar bahwa bahwa
mereka miskin. Reaksi mereka kemudian adalah lekas-lekas menjual harta
kebudayaan mereka yang laku kepada orang kota atau menjadi pengemis di hadapan
orang-orang asing. Dalam bentuk ekstrimnya melalui turisme ini kita menjual
bangsa sendiri yang belum siap sama sekali dihadapkan secara frontal demikian
kepada suatu jaringan mekanisme kehidupan modern yang manifestasinya dihadapan
mereka hanyalah kelimpahan materi.
Terciptanya
semua masalah
ini mebuktikan bahwa masyarakat kita masih berada dalam kondisi yang arkhanis, tidak
ada yang superior antara satu dengan yang lainnya. Yang lebih nyata adalah, kita
yang saat ini berada pada posisi yang aktif dan memiliki otoritas, seharusnya
dapat mengerem proses tersebut kalau kita menyadari bahayanya. Dan sekarang, masalah yang
harus kita hadapi adalah bagaimana membawa dan memanfaatkan semua posisi dan
kemungkinan itu untuk kepentingan negara dan seluruh masyarakat Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar