Sabtu, 24 September 2011

INTERAKSI DAN STRUKTUR SOSIAL


Pratikum ke-2                                                              Selasa, 27 September 2011
Ruangan  : P25                                                            Sosiologi Umum (KPM 130)

INTERAKSI DAN STRUKTUR SOSIAL
STRUKTUR INTERAKSI KELOMPOK ELIT DALAM PEMBANGUNAN
                                         Penelitian di Tiga Desa Santri     
Oleh : Sunyoto Usman
Dan
TOLONG BANTU PERBAIKI PERTANIAN KAMI
Oleh: Muhammad Syaifullah

Nama   : Delfitriani
Nrp : F34110070



Natasha Christdavina
H24090143

DEPARTEMEN KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT
FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2011
IKHTISAR BACAAN
Bacaan 1
Dalam kehidupan,sehari-hari, istilah elit berarti kelompok kecil dalam masyarakat yang disegani, kaya, dihormati dan berkuasa. Mereka adalah kelompok minoritas superior yang mempunyai posisi di atas. Sedangkan kelompok mayoritas inferior (massa) adalah yang posisinya dalam stratifikasi masyarakat berada di bawah, tidak memiliki kemampuan mengendalikan kegiatan ekonomi dan politik, serta kurang begitu diperhitumhkan dalam proses penambilan keputusan. Ada 2 pendapat tentang kelahiran kelompok elit di masyarakat yaitu, pertama adalah kelompok elit lahir dari proses yang alami (orang-orang terpilih yang dikaruniai oleh tuhan kepandaian, kemampuan dan keterampilan diatas rata-rata) dan kedua, kelompok elit lahir karena adanya kompleksitas organisasi sosial di desa.
Di pedesaan, kelompok elit biasanya tergolong kelompok minoritas superior yang memiliki status sosial tinggi pada strata kemasyarakatan, biasanya terdiri dari dua kelompok yaitu mereka yang memiliki jabatan formal dan mereka yang tidak memiliki jabatan formal. Kedua kelompok tersebut bisa mengakomodasi baik buruknya kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintah. Tidak menutup kemungkinan, bahwa antar anggota elit terjadi persaingan untuk memberikan pengaruh kuat dalam proses pengambilan keputusan. Dengan pengaruh yang mereka miliki masing-masing, mereka berperan sebagai penghubung antara pemerintah dengan masyarakat yang membentuk kerjasama kelompok dengan kelompok. Bila antar kelompok elit  dihubungkan melalui hubungan sosial yang ada maka akan terbentuk jaringan sosial.
RUANG LINGKUP
Fenomena desa santri dalam studi masalah pembangunan dan struktur interaksi kelompok elit tampil menjadi episode penelitian yang menarik karena di desa lazimnya masih ada dominasi figur tokoh agama. Banyak penelitian yang menunjukkan bawahwa mereka bukan  hanya sebagai panutan dalam mendekatkan diri pada Allah swt, tetapi juga menjadi referensi tindakan dalam kehidupan bermasyarakat.
Penelitian ini terutama bertujuan mengidentifikasi struktur interaksi elit dalam mengakomodasi implementasi proyek pembangunan pedesaan. Masalah penelitian yang akan dijawab adalah bagaimana konfigurasi posisi masing-masing anggota kelompok elit dalam jaringan interaksinya.
            Secara teoritis dalam setiap interaksi ditemukan dua aspek: konflik dan integrasi. Konsentrasi pada aspek ini bukan bermaksud menolak eksistensi aspek konflik, sebaliknya justru di sadari bahwa para elit desa tidak selalu dalam satu pandangan dan tentu banyak kendala yang mereka hadapi dalam usaha memelihara integrasi.
PENDEKATAN
Ada tiga macam pendekatan yang lazim digunakan peneliti social untuk mengidentifikasi kelompok elit, yaitu 1) positional approach (mencari individu yang menempati posisi penting dalam lembaga-lembaga social), 2) reputational approach (melakukan wawancara mendalam dengan informan-informan kunci untuk mengklasifikasikan tokoh-tokoh yang menjadi panutan masyarakat), dan 3) decisional approach (melihat penampilan nyata tokoh-tokoh masyarakat dalam proses pengambilan keputusan).
Penelitian ini diselenggarakan di tiga desa satri dalam wilayah Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Ada dua alasan mengapa mengapa desa tersebut dipilih sebagai lokasi penelitian. Pertama, banyak sekali jumlah anggota masyarakat di tiga desa tersebut yang menjadi pengikut thoriqot Qodiriyah-Naqsabandiyah. Kedua, anggota masyarakat ketiga desa tersebut memiliki daya dukung yang kuat terhadap ketahanan organisasi sosial politik Islam yaitu Nadhalatul Ulama.
INFORMASI YANG DIDAPAT
Ternyata kelompok elit pemong desa memiliki angka tinggi baik dalam koneksi maupun integrasi. Sementara itu, kelompok elit pemuka agama memiliki nilai paling rendah. Hal ini disebabkan dalam pembuatan proyek di pedesaan, pamong desa biasanya dilibatkan untuk berkonsultasi.












               




Bacaan II
            Pertemuan interaksi kelompok dengan kelompok yang diadakan antara beberapa jagawana dengan beberapa tokoh masyarakat di Kondolo yang dipimpin oleh Ade Suharso, Kepala Seksi Konservasi TN Kutai wilayah Tanjung Limau, berjalan dengan lancar. Kepala Dusun Kandolo, Manap, mengungkapkan bahwa ia tahu tugas beberapa jagawana adalah untuk menjaga hutan, tetapi warga terpaksa membuka hutan untuk mempertahankan hidup. Andi Mappotolo, mengatakan bahwa petugas hendaknya tidak melarang warga yang benar–benar mencari kayu untuk membuat kayu arang. Ade Suharso mengatakan kepada kompas bahwa ada dusun-dusun yang sulit ditemui karena para petugas jagawana tidak berani untuk berlama-lama di daerah itu karena mereka dimusuhi.
Contoh konflik, pada saat petugas jagawana mendatangi kepala Desa Sangkimah pada awal September lalu, untuk meluruskan persoalan temuan kayu oleh petugas jagawana justru dihadang puluhan massa, bahkan diancam kendaraan mobil mereka akan dibakar. Sebelumnya, kalangan pelajar, pramuka, pejabat dan aparat keamanan yang dipimpin Kepala Balai TN Kutai Tonny Suhartono juga dihadang masyarakat Teluk Pandan ketika akan melakukan penghijauan dengan penanaman ribuan bibit buah-bahan di daerah tersebut saat memperingati Hari Lingkungan Sedunia.
Banyaknya usaha penyelundupan dari luar juga menjadi hambatan, padahal yang berprofesi sebagai pencari kayu arang hanya sebagian akan tetapi yang bekerja sebagai pembuka lahan perkebunan begitu banyak yang dapat dilihat dari jalanan, para pelakunya tidak hanya pemodal kecil akan tetapi juga orang-orang bermodal dari Sangatta hingga Balikpapan. Setiap kali warga diundang untuk berdialog oleh pemerintah untuk mengakomodasi jalan keluar dari permasalahan itu, mereka malah menggunakan kesempatan itu untuk memperoleh informasi untuk terus merambah hutan.
            Menurut Tony, warga setempat dengan orang luar sudah ada dalam kerjasama dalam pembagian lahan TN Kutai. Sebagai contoh, pihaknya memergoki seorang penduduk Bontang bernama AHI yang juga memiliki kartu tanda penduduk desa Sangkimah dan Muh, warga Sangkimah mengaku menjadi penyandang dana pembukaan lahan, pembagi lahan, sekaligus penadah kayu di daerah Teluk Kaba. Tony juga sudah mengetahui siapa saja yang menjadi pelaku perambahan di hutan tetapi apa artinya kalau kita ungkapkan semuanya tetapi penegakan hukum tidak bisa dilakukan. Salah-salah akan terjadi konflik ancaman yang membuat jiwa petugas saya terancam. Di antara permasalahan tersebut, para pencari kerja pun terus berdatangan ke kota Sangatta dan Bontang yang dikenal sebagai dua kota penghasil “dollar” karena terdapat PT Kaltim Prima Coal (KPC) yang merupakan perusahaan pertambangan batu bara terbesar di Kaltim, perusahaan pupuk PT Pupuk Kaltim dan perusahaan kilang pengolahan gas alam cair PT Badak NGL Co. Keadaan ini sudah tentu akan menimbulkan persaingan antar individu untuk menguasai lahan di kawasan TN Kutai yang terletak antara dua kota tersebut. Masalah terbesar yang dihadapi TN Kutai dari awal ialah tidak adanya singkronisasi kebijakan mengenai hutan antara pemerintah pusat, Pemda Kaltim dan Pemda Kutai. Keadaan ini yang membuat hubungan jagawana dengan warga semakin memburuk.

Drug Trafficker” dari Cianjur (analisis bacaan)

Pratikum ke-1 Selasa,13 September 2011

Ruangan : P25 Sosiologi Umum (KPM 130)

“ Drug Trafficker” dari Cianjur"

Oleh : Irfan Budiman, Rian Suryalibrata, dan Upik

Nama : Delfitriani

Nrp : F34110070


Asisten:

Natasha Christdavina : H24090143

DEPARTEMEN KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT

FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2011


  1. IKHTISAR BACAAN

Merika Franola alias Ola divonis mati oleh majelis hakim pimpinan Asep iwan iriawan di PN Tangerang. Ola mempunyai anak akibat hubungan intim dengan seorang pria yang disebutnya Mr.X. Dia menghidupi anaknya dengan bekerja sebagai disc jocker di berbagai diskotek di Puncak, Bogor, Bali, dan Tanah Abang.

Pada Oktober 1997, Ola bertemu Tajudian alias Tony, pria Nigeria yang mengaku berbisnis pakaian. Hubungan mereka semakin lekat hingga Ola hamil dan menikah di Cianjur. Awalnya mereka bahagia. Namun hanya sebentar, karena suaminya yang bernama Tony ringan tangan kepada Ola. Suatu ketika ola mengetahui suaminya ternyata seorang bandar narkoba dan memaksa Ola untuk ikut bisnisnya. Kehidupan Ola yang meningkat dua sepupunya, yakni Rani Andriani, 25 tahun dan Deni Setia Maharwan, 28 tahun. Akhirnya mereka berdua pun terjebak dalam bisnis tersebut.

Pada tanggal 12 januari 2003, petualangannya mereka tercium oleh petugas kepolisian daerah metro jaya dan berakhir di bandara Soekarno Hatta, saat akan menyelundupkan serbuk putih dan bubuk kuning. Dihari yang sama, Tony serta keempat temannya tewas di tembak polisi di kawasan Cipete, Jakarta selatan.

Sebenarnya, lakon ola dan sepupunya adalah sebagian kecil dari kiprah Tony. Tony adalah komplotan sindikat internasional. Menurut Alex Bambang Riatmojo pemimpin penangkapan Ola, Ola adalah orang pandai bersandiwara. Dunia hitam digelutinya sebelum menikah dengan Tony.

  1. ANALISIS SOSIOLOGI

Penjelasan

Aktor Sosial

Merika Franola alias Ola

Tajudin alias Tony

Rani Andriani

Deni Setia maharwan

Asep Iwan Iriawan

Polisi

Alex Bambang Riatmodjo

Eka Prawira

Rosyati

Struktur Sosial

Merika Franola alias Ola menikah dengan Tajudin alias Tony merupakan termasuk kedalam pola-pola hubungan sosial. Adanya posisi-posisi sosial : Tony sebagai suami dan Ola sebagai istri yang merupakan Drug Trafficker juga memiliki stuktur dalam jaringannya. Selain itu juga ada Asep Iwan Iriawan sebagai hakim pimpinan di Pengadilan Negeri Tanggerang dan Alex Bambang Riatmodjo sebagai bekas Kepala Direktorat Reserse Metro Jaya, Senior Superintenden.

Tindakan Sosial

Toni menolong kedua sepupu Ola, Rani dan Deni, dengan tujuan agar mereka ikut dalam bisnis narkotik, Ola bekerja sebagai disc jocker dengan tujuan untuk menghidupi anaknya, Eka Prawira. Keinginan Ola untuk membantu kedua sepupunya yang terlilit utang.

Integrasi Sosial

Ketergantungan Ola dengan Tony yang bekerja sebagai drug trafficker

Kekuasaan

Kekuasaan Tony mengatur Ola dan Keputusan majelis hakim Pengadilan Negeri Tanggerang yang memvonis mati Ola dan kedua sepupunya.

Kebudayaan

Ola yang melakukan hubungan intim di luar nikah. Hal ini telah melanggar norma maupun budaya yang ada di masyarakat.