Pratikum
ke-2 Selasa,
27 September 2011
Ruangan : P25 Sosiologi
Umum (KPM 130)
INTERAKSI DAN STRUKTUR SOSIAL
STRUKTUR INTERAKSI KELOMPOK ELIT DALAM PEMBANGUNAN
Penelitian
di Tiga Desa Santri
Oleh : Sunyoto
Usman
Dan
TOLONG BANTU PERBAIKI PERTANIAN KAMI
Oleh: Muhammad
Syaifullah
Nrp : F34110070
Natasha
Christdavina
H24090143
DEPARTEMEN
KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT
FAKULTAS
EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT
PERTANIAN BOGOR
2011
IKHTISAR BACAAN
Bacaan 1
Dalam
kehidupan,sehari-hari, istilah elit berarti kelompok kecil dalam masyarakat
yang disegani, kaya, dihormati dan berkuasa. Mereka adalah kelompok minoritas
superior yang mempunyai posisi di atas. Sedangkan kelompok mayoritas inferior
(massa) adalah yang posisinya dalam stratifikasi masyarakat berada di bawah,
tidak memiliki kemampuan mengendalikan kegiatan ekonomi dan politik, serta
kurang begitu diperhitumhkan dalam proses penambilan keputusan. Ada 2 pendapat
tentang kelahiran kelompok elit di masyarakat yaitu, pertama adalah kelompok
elit lahir dari proses yang alami (orang-orang terpilih yang dikaruniai oleh
tuhan kepandaian, kemampuan dan keterampilan diatas rata-rata) dan kedua,
kelompok elit lahir karena adanya kompleksitas organisasi sosial di desa.
Di
pedesaan, kelompok elit biasanya tergolong kelompok minoritas superior yang
memiliki status sosial tinggi pada strata kemasyarakatan, biasanya terdiri dari
dua kelompok yaitu mereka yang memiliki jabatan formal dan mereka yang tidak
memiliki jabatan formal. Kedua kelompok tersebut bisa mengakomodasi baik
buruknya kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintah. Tidak menutup kemungkinan,
bahwa antar anggota elit terjadi persaingan untuk memberikan pengaruh kuat
dalam proses pengambilan keputusan. Dengan pengaruh yang mereka miliki
masing-masing, mereka berperan sebagai penghubung antara pemerintah dengan
masyarakat yang membentuk kerjasama kelompok dengan kelompok. Bila antar
kelompok elit dihubungkan melalui
hubungan sosial yang ada maka akan terbentuk jaringan sosial.
RUANG
LINGKUP
Fenomena
desa santri dalam studi masalah pembangunan dan struktur interaksi kelompok
elit tampil menjadi episode penelitian yang menarik karena di desa lazimnya
masih ada dominasi figur tokoh agama. Banyak penelitian yang menunjukkan
bawahwa mereka bukan hanya sebagai
panutan dalam mendekatkan diri pada Allah swt, tetapi juga menjadi referensi
tindakan dalam kehidupan bermasyarakat.
Penelitian
ini terutama bertujuan mengidentifikasi struktur interaksi elit dalam
mengakomodasi implementasi proyek pembangunan pedesaan. Masalah penelitian yang
akan dijawab adalah bagaimana konfigurasi posisi masing-masing anggota kelompok
elit dalam jaringan interaksinya.
Secara teoritis dalam setiap
interaksi ditemukan dua aspek: konflik dan integrasi. Konsentrasi pada aspek
ini bukan bermaksud menolak eksistensi aspek konflik, sebaliknya justru di
sadari bahwa para elit desa tidak selalu dalam satu pandangan dan tentu banyak
kendala yang mereka hadapi dalam usaha memelihara integrasi.
PENDEKATAN
Ada tiga macam
pendekatan yang lazim digunakan peneliti social untuk mengidentifikasi kelompok
elit, yaitu 1) positional approach
(mencari individu yang menempati posisi penting dalam lembaga-lembaga social), 2)
reputational approach (melakukan
wawancara mendalam dengan informan-informan kunci untuk mengklasifikasikan
tokoh-tokoh yang menjadi panutan masyarakat), dan 3) decisional approach (melihat penampilan nyata tokoh-tokoh
masyarakat dalam proses pengambilan keputusan).
Penelitian ini
diselenggarakan di tiga desa satri dalam wilayah Kabupaten Jombang, Jawa Timur.
Ada dua alasan mengapa mengapa desa tersebut dipilih sebagai lokasi penelitian.
Pertama, banyak sekali jumlah anggota masyarakat di tiga desa tersebut yang
menjadi pengikut thoriqot Qodiriyah-Naqsabandiyah. Kedua, anggota masyarakat
ketiga desa tersebut memiliki daya dukung yang kuat terhadap ketahanan
organisasi sosial politik Islam yaitu Nadhalatul Ulama.
INFORMASI YANG
DIDAPAT
Ternyata
kelompok elit pemong desa memiliki angka tinggi baik dalam koneksi maupun
integrasi. Sementara itu, kelompok elit pemuka agama memiliki nilai paling
rendah. Hal ini disebabkan dalam pembuatan proyek di pedesaan, pamong desa
biasanya dilibatkan untuk berkonsultasi.
Bacaan II
Pertemuan interaksi kelompok dengan
kelompok yang diadakan antara beberapa jagawana dengan beberapa tokoh
masyarakat di Kondolo yang dipimpin oleh Ade Suharso, Kepala Seksi Konservasi
TN Kutai wilayah Tanjung Limau, berjalan dengan lancar. Kepala Dusun Kandolo,
Manap, mengungkapkan bahwa ia tahu tugas beberapa jagawana adalah untuk menjaga
hutan, tetapi warga terpaksa membuka hutan untuk mempertahankan hidup. Andi
Mappotolo, mengatakan bahwa petugas hendaknya tidak melarang warga yang
benar–benar mencari kayu untuk membuat kayu arang. Ade Suharso mengatakan
kepada kompas bahwa ada dusun-dusun yang sulit ditemui karena para petugas
jagawana tidak berani untuk berlama-lama di daerah itu karena mereka dimusuhi.
Contoh
konflik, pada saat petugas jagawana mendatangi kepala Desa Sangkimah pada awal
September lalu, untuk meluruskan persoalan temuan kayu oleh petugas jagawana
justru dihadang puluhan massa, bahkan diancam kendaraan mobil mereka akan
dibakar. Sebelumnya, kalangan pelajar, pramuka, pejabat dan aparat keamanan yang
dipimpin Kepala Balai TN Kutai Tonny Suhartono juga dihadang masyarakat Teluk
Pandan ketika akan melakukan penghijauan dengan penanaman ribuan bibit
buah-bahan di daerah tersebut saat memperingati Hari Lingkungan Sedunia.
Banyaknya
usaha penyelundupan dari luar juga menjadi hambatan, padahal yang berprofesi
sebagai pencari kayu arang hanya sebagian akan tetapi yang bekerja sebagai
pembuka lahan perkebunan begitu banyak yang dapat dilihat dari jalanan, para
pelakunya tidak hanya pemodal kecil akan tetapi juga orang-orang bermodal dari
Sangatta hingga Balikpapan. Setiap kali warga diundang untuk berdialog oleh
pemerintah untuk mengakomodasi jalan keluar dari permasalahan itu, mereka malah
menggunakan kesempatan itu untuk memperoleh informasi untuk terus merambah
hutan.
Menurut Tony, warga setempat dengan
orang luar sudah ada dalam kerjasama dalam pembagian lahan TN Kutai. Sebagai
contoh, pihaknya memergoki seorang penduduk Bontang bernama AHI yang juga
memiliki kartu tanda penduduk desa Sangkimah dan Muh, warga Sangkimah mengaku
menjadi penyandang dana pembukaan lahan, pembagi lahan, sekaligus penadah kayu
di daerah Teluk Kaba. Tony juga sudah mengetahui siapa saja yang menjadi pelaku
perambahan di hutan tetapi apa artinya kalau kita ungkapkan semuanya tetapi
penegakan hukum tidak bisa dilakukan. Salah-salah akan terjadi konflik ancaman
yang membuat jiwa petugas saya terancam. Di antara permasalahan tersebut, para
pencari kerja pun terus berdatangan ke kota Sangatta dan Bontang yang dikenal
sebagai dua kota penghasil “dollar” karena terdapat PT Kaltim Prima Coal (KPC)
yang merupakan perusahaan pertambangan batu bara terbesar di Kaltim, perusahaan
pupuk PT Pupuk Kaltim dan perusahaan kilang pengolahan gas alam cair PT Badak
NGL Co. Keadaan ini sudah tentu akan menimbulkan persaingan antar individu
untuk menguasai lahan di kawasan TN Kutai yang terletak antara dua kota
tersebut. Masalah terbesar yang dihadapi TN Kutai dari awal ialah tidak adanya
singkronisasi kebijakan mengenai hutan antara pemerintah pusat, Pemda Kaltim
dan Pemda Kutai. Keadaan ini yang membuat hubungan jagawana dengan warga
semakin memburuk.